Monday, March 7, 2011

Ditemani Remang CAHAYA BULAN



Ditemani Remang CAHAYA BULAN

Oleh Lusiana Indriasari

Banyak yang terheran-heran ketika presenter televisi Daniel Mananta (29) memilih tinggal di Pluit, Jakarta Utara. Lokasi ini dianggap jauh dari pusat kota, sering dilanda banjir, dan macet.

Punya rumah jauh banget. Macet lagi!” ungkap Daniel menirukan rasa keheranan teman-temannya. Namun, bagi Daniel, Apartemen Pantai Mutiara yang ditempatinya ini cukup strategis.

Jaraknya yang hanya sekitar 1 kilometer dari pintu tol Pluit membuat ia merasa lebih leluasa pergi ke mana-mana. Daniel pun merasa lebih betah di Pulit dibandingkan dengan tinggal di rumahnya di Jakarta Selatan.

Di tengah kesibukannya menjadi pembawa acara dan mengelola usaha clothing ”Damn! I Love Indonesia”, Rabu (22/12) lalu, ia mengajak kami ke apartemen yang ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri. Apartemen Daniel berlokasi di Pantai Mutiara yang berbatasan dengan tempat wisata Taman Impian Jaya Ancol. Tidak tampak kemacetan seperti yang dibayangkan sebelumnya ketika kami melaju ke rumah Daniel.

Bangunan apartemen yang terdiri atas 25 lantai itu berada persis di pinggir Laut Jawa. Daniel tinggal di lantai 11. Jalan menuju ke apartemen ditempuh melalui jalanan kompleks yang berbatasan dengan laut. Sepanjang jalan tampak permukaan air laut sudah hampir menyamai tanggul pembatas daratan. Air laut bahkan sudah menggenangi beberapa rumah. Angin laut yang bertiup menyejukkan suasana siang yang panas itu.

Serba putih

Begitu masuk ke ruang apartemen, warna putih menyergap mata. Warna yang bisa menambah kesan luas ini mendominasi semua isi ruangan, mulai dari lantai, tembok, langit-langit, hingga semua perabotan.

Asal-usul warna putih itu, tutur Daniel, berasal dari satu rangkaian perangkat dapur (kitchen set

) yang dibelinya beberapa tahun lalu. Ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mal, Daniel melihat ada kitchen set cantik berwarna putih. Ia lalu meminta dibuatkan dapur yang persis sama dengan contoh produk yang dilihatnya tadi. Jadilah dapur bergaya minimalis modern itu terpasang di dapur apartemennya yang menyatu dengan ruang tamu, ruang makan, sekaligus ruang menonton TV. Dari dapur tadi, pria lajang ini mendekorasi seluruh ruangannya menjadi serba putih.

”Saya minta bantuan kontraktor untuk dibuatkan interior yang cocok dengan kitchen set ini,” kata Daniel.

Salah satu interior yang paling disukai Daniel adalah bata ekspose yang juga dicat putih. Susunan bata yang menonjol di sana-sini itu menjadi interior di ruang utama. Sebuah televisi plasma berukuran besar menempel di dinding. Di situlah Daniel lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan menonton televisi, film, atau bermain game.

Bagi Daniel, warna putih terasa menyejukkan hati. Selain itu, warna putih juga cocok dengan warna-warna lain sehingga ia lebih bebas memajang pemanis ruangan beraneka warna. Ia memadukan warna putih dengan warna hijau yang berasal dari hiasan guci, tanaman hias, dan sedikit pernik-pernik lainnya.

”Kalau bosan warna, saya tinggal mengganti hiasannya saja. Biayanya lebih murah,” tutur Daniel yang juga memasang dua lukisan dengan warna-warna cerah.

Hilang hoki

Daniel membeli apartemen lima tahun lalu. Ketika itu umurnya sudah menginjak 24 tahun dan ia merasa malu bila masih harus tinggal dengan orangtuanya. Niatnya untuk pindah rumah sempat ditentang orangtua.

”Ibu saya keberatan. Ada tradisi di masyarakat China bahwa anak laki-laki yang belum menikah masih harus tinggal dengan orangtua supaya hoki anak tadi tidak hilang he-he-he,” kenang pria yang sejak sekolah menengah pertama (SMP) hingga kuliah tinggal di Australia.

Namun, meski sudah memiliki apartemen, ia baru bisa menempatinya dua tahun lalu. Rupanya begitu dibeli, ada orang yang tertarik untuk menyewa rumahnya. Karena merasa harga sewanya lumayan menguntungkan, Daniel pun rela bergabung lagi dengan orangtuanya.

Ia sempat membeli rumah di Kemang, tetapi hanya betah menempatinya selama dua minggu. Alasannya adalah kemacetan. Ia pun balik lagi kepada orangtuanya sampai akhirnya menempati apartemen di Pantai Mutiara.

Apartemen Daniel seluas 150 meter persegi itu semula memiliki tiga kamar tidur. Namun, ia membongkar salah satu kamar tidur yang ukurannya tidak terlalu besar, lalu menyulapnya menjadi ruang kerja. Ruang kerja yang juga menghadap ke laut itu didesain bergaya Jepang. Permukaan lantainya ditinggikan menjadi semacam panggung dari kayu. Daniel lalu menggelar tatami dari karpet bulu tebal. Di ruang kerja itu ia menyeleksi desain-desain kausnya serta berencana membuka perusahaan baru bernama Damn-Inc yang bergerak di bidang hiburan.

Dari setiap jengkal ruangan, Daniel bisa memandang laut lepas dari balik jendela yang sekaligus menjadi dinding luar apartemennya. Ia bahkan menempatkan bangku panjang dengan bantalan empuk agar bisa berlama-lama rebahan di pinggir jendela di ruang utama sambil memandang laut dan matahari terbenam di senja hari.

Sementara dari ruang tidurnya, Daniel bisa melihat keindahan matahari terbit. ”Saya bersyukur karena bisa menikmati dua keindahan dunia,” tutur Daniel.

Ruang tidur itu sedikit berbeda dengan ruang lainnya karena lantainya berwarna hitam. Ia sengaja memilih warna hitam agar kalau tidur dan lampunya dimatikan, kamarnya benar-benar gelap gulita. Ia pun tidur ditemani remang-remang cahaya bulan.

No comments:

Post a Comment